BANGGAI CERDAS BERBUDAYA – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banggai, Syafruddin Hinelo, S.STP., M.Si., menegaskan bahwa peningkatan kapasitas intelektual dan profesionalisme merupakan keharusan bagi guru dalam menghadapi perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi.
Penegasan tersebut disampaikan Syafruddin saat menjadi narasumber dalam Kuliah Umum Program Studi S2 Pedagogi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Luwuk (Unismuh Luwuk), dengan tema “Membangun Guru Profesional dan Berdaya Saing di Era Transformasi Digital.”
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid, luring dan daring, tersebut digelar di Ruang Pascasarjana Unismuh Luwuk dan dibuka langsung oleh Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, S.E., M.M. Hadir pula Ketua BPH Dr. Farid Haluti, Dekan FKIP Dr. Armin Haluti, Ketua Program Studi S2 Pedagogi Dr. Hasrat Aimang, serta mahasiswa baru dan sejumlah guru.
Dalam pemaparannya, Syafruddin menyoroti perubahan standar kompetensi guru yang terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan dunia pendidikan. Menurutnya, guru tidak cukup hanya mengandalkan ijazah maupun pengalaman mengajar, tetapi harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan memperbarui kemampuan.
Ia mengingatkan bahwa perubahan zaman menuntut setiap tenaga pendidik untuk mampu beradaptasi, termasuk dalam penguasaan teknologi dan pengembangan pola pikir.
“Pergeseran zaman mengharuskan semua orang meng-upgrade dirinya. Kalau kita tidak meng-upgrade diri mengikuti perkembangan hari ini, insyaallah kita akan ketinggalan kereta masa depan,” tegasnya.
Syafruddin juga menekankan bahwa gelar akademik bukan satu-satunya ukuran kualitas intelektual seseorang. Hal terpenting adalah kemampuan menerapkan ilmu, mengembangkan pemikiran, serta menjadikannya sebagai dasar dalam menjalankan tugas profesional.
Menurutnya, guru sejatinya merupakan pembelajar sepanjang hayat yang tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing, mengembangkan potensi, dan membentuk pola pikir peserta didik agar mampu menghadapi tantangan masa depan.
Ia menilai pengalaman guru dalam mendidik berbagai generasi merupakan modal besar yang harus terus diperkuat melalui peningkatan kompetensi dan kualitas pembelajaran.
Secara khusus, Syafruddin mendorong mahasiswa S2 Pedagogi untuk menjadikan pendidikan pascasarjana sebagai momentum meningkatkan kemampuan analisis, kedalaman berpikir, serta etika akademik. Pendidikan jenjang magister, katanya, harus menghasilkan perubahan nyata dalam cara seseorang memahami dan menyelesaikan persoalan.
“Mahasiswa pascasarjana harus beda alam berpikirnya, daya analisa intelektualnya, etika moralnya serta cara melihat sebuah permasalahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemampuan analisis sangat penting, tidak hanya dalam kegiatan akademik, tetapi juga dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menerima informasi, melainkan mampu menguji, mengolah, dan menarik kesimpulan secara ilmiah.
Di sisi lain, Syafruddin mengapresiasi keberadaan Program Studi S2 Pedagogi Unismuh Luwuk yang membuka akses bagi guru di Kabupaten Banggai dan sekitarnya untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan daerah.
Ia berharap kesempatan tersebut dimanfaatkan secara optimal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat juga diharapkan terus memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.
“Pendidikan sudah berada di sebelah rumah. Apakah harus naik pesawat lagi? Pemerintah tentu akan mendukung proses pascasarjana, apalagi ini untuk peningkatan kualitas guru,” ungkapnya.
Menutup pemaparannya, Syafruddin menegaskan bahwa peningkatan kualifikasi akademik harus diikuti perubahan perilaku, pola pikir, dan kualitas pengabdian. Menurutnya, gelar magister harus menjadi dorongan untuk semakin kritis, menjunjung etika, serta mengembangkan tradisi berpikir ilmiah.
Kuliah umum tersebut menjadi ruang penguatan wawasan akademik bagi mahasiswa S2 Pedagogi sekaligus menegaskan pentingnya peningkatan kualitas guru sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan pendidikan di era transformasi digital.


















